Langsung ke konten utama

Kerentanan Terhadap Krisis Ekonomi Kelompok 6 (IP-II UNIKOM 2014)



Kerentanan Terhadap Krisis Ekonomi
Dosen : Donni Junipriansa, S.Pd., S.E., S.S., M.M., QWP®., MOS.
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sistem Ekonomi Indonesia pada Program Studi Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Komputer Indonesia

Disusun Oleh:
KELOMPOK 6
Maulana Sape’i       : 41712777
Firmansyah             : 41714011
Reno Krisman Gea : 41714016
 





UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
PROGRAM STUDI ILMU PEMERINTAHAN
BANDUNG
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan yang Maha Esa, yang mana berkat rahmat dan petunjuknya, sehingga kelompok kami (Kelompok 6), dapat menyelesaikan  tugas makalah perekonomian indonesia, yang berjudul KERENTANAN TERHADAP KRISIS EKONOMI. Sebelumnya kami mengucapkan terima kasih kapada Bapak dosen Sistem Ekonomi Indonesia yaitu Bapak Donni Junipriansa, S.Pd., S.E., S.S., M.M., QWP®., MOS. yang telah memberikan tugas ini dan telah membimbing kami dalam menyelesaikan tugas ini, sehingga Kelompok kami (Kelompok 6), dapat menyelesaikan tugas ini.
Kami menyadari bahwa terdapat kekurangan didalam makalah ini. Kami khususnya kelompok 6,  sangat  memerlukan  kritik dan  saran  yang  membangun  dari  para  pembaca makalah ini, terutama Bapak dosen untuk menyempurnakan makalah ini.
Tugas makalah yang kami susun ini sesungguhnya mempunyai ilmu tersendiri, maka dari itu kami berharap makalah yang kami susun ini agar bisa memberikan manfaat bagi para pembacanya, kami juga berharap kritik dan sarannya dari para pembaca makalah ini.
Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga makalah ini  bermanfaat bagi siapa pun yang membacanya.

Bandung, 24  April 2015









           
DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR............................................................................................ i


DARTAR ISI..........................................................................................................ii


DAFTAR TABEL................................................................................................iii


DAFTAR GAMBAR......................................................................................... iv




BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang .................................................................................................  1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................................. 3
1.3 Tujuan Penelitian.............................................................................................. 3

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Faktor-faktor Penyebab Kerentanan Krisis Ekonomi........................................ 4
2.2 Mengukur Tingkat Kerentanan Ekonomi.......................................................... 5
2.3 Indikator-indikator Pada Tingkat Mikro .........................................................  15


BAB III PENUTUP      
3.1. Kesimpulan...................................................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................. 19








DAFTAR  TABEL

Tabel                                                           Halaman


1.    Kerentanan Sosial Ekonomi ..................................................
























DAFTAR GAMBAR
Gambar                                        Halaman


1. Ketidak stabilan Politik (Bapenas) ................................................................................ 5
2. Konflik Bernuansa Sara ................................................................................................. 6       

                                    


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Penulisan makalah ini merupakan pemaparan mengenai Kerentanan Terhadap Krisis Ekonomi, yang diambil dari beberapa sumber. salah satu sumber yang paling banyak digunakan adalah buku yang ditulis oleh Dr. Tulus T. H. Tambunan, yang berjudul Pertumbuhan ekonomi dan Perubahan Struktur Ekonomi. Pembahasan yang dipaparkan oleh penulis dalam bukunya dianggap penting karena prosedur itu menyadarkan kita akan adanya hambatan-hambatan dalam Perekonomian, dan menunjukkan pada kita cara-cara mengatas hambatan-hambatan itu. Sumber lain yang digunakan juga dari buku yang ditulis oleh Faisal Basri yang berjudul Perekonomian Indonesia Menjelang Abad XXI, sumber buku lain, dan berbagai sumber-sumber dari internet lainnya.
Dalam penulisan makalah ini kami rasa perlu untuk memaparkan beberapa hal yang berkaitan dengan kerentanan terhadap krentanan ekonomi, terlebihnya lagi pengaruh krisis ekonomi di negara maju terhadap negara-negara berkembang dalam hal ini adalah Indonesia. Kenapa harus Indonesia?, jawabannya adalah karena sebagai putra/putri Indonesia kita harus tahu masalah yang kita hadapi terhadap kerentanan ekonomi.
Dalam dua dekade terakhir ini Indonesia sudah dua kali di terpa krisis ekonomi besar. Pertama, krisis keuangan Asia yang muncul sekitar pertengahan tahun 1997 dan mencapai klimaksnya pada pertengahan tahun 1998, dan kedua, krisis ekonomi global yang terjadi dan mempengaruhi banyak Negara, termasuk Indonesia, selama periode 20008-2009. Walaupun dampak dari krisis ekonomi kedua itu terhadap perekonomian Indonesia jauh lebih kecil dibandingkan dengan akibat dari krisis keuangan Asia 1997-1998 tersebut, ekonomi Indonesia tetap mengalami suatu goncangan yang mengakibatkan laju pertumbuhan ekonomi nasional pada tahun 2009, walaupun tetap positif, tetapi lebih rendah dari yang di harapkan.
Hal ini sempat mengkhawatirkan semua kalangan masyarakat di tanah air, khususnya pemerintah dan pelaku bisnis dengan mengingat pengalaman buruk selama krisis 1997-1998. Suatu hal yang jelas dan dapat dijadikan suatu pelajaran penting dari pengalaman dua kali terkena krisis ekonomi tersebut adalah, ternyata Indonesia sangat rentan terhadap setiap tipe atau bentuk goncangan ekonomi, baik yang menurut sumbernya berasal dari dalam negri (misalnya krisis keuangan Asia 1997-1998 tersebut) atau dari sumber-sumber eksternal aeperti krisis ekonomi global 2008-2009 yang berasal dari suatu krisis keuangan besar di AS. Krisis global saat ini jauh lebih parah dari perkiraan semula dan suasana ketidakpastiannya sangat tinggi. Kepercayaan masyarakat dunia terhadap perekonomian menurun tajam. Akibatnya, gambaran ekonomi dunia terlihat makin suram dari hari ke hari walaupun semua bank sentral sudah menurunkan suku bunga sampai tingkat yang terendah.
Oleh karena itu, baik pemerintah pusat (di tingkat nasional) maupun pemerintah daerah (di tingkat provinsi) memerlukan suatu sistem pendeteksi dini krisis ekonomi dan sistem memonitor kerentanan ekonomi, khususnya di tingkat provinsi atau kabupaten/kota terhadap suatu krisis ekonomi,. Jadi, diperlukan sejumlah indikator yang dapat di monitor secara terus-menerus untuk melihat tingkat kerentanan suatu wilayah terhadap krisis ekonomi.



NO
INDIKATOR KERENTANAN
PERUBAH
1.
POPULASI
Rasio Penduduk Rentan
Kepadatan Penduduk
Penyandang Cacat
2.
Ketenagakerjaan
TPAK (Tingkat partisipasi angkatan kerja)
Ratio Ketergantungan
3.
Pendidikan dan Komunikasi
Rataan lama tahun sekolah
Akses komunikasi
4.
Kesehatan
Harapan hidup
Ratio dokter per penduduk
Jumlah fasilitas kesehatan
5.
Kemiskinan
Persentase penduduk hidup di bawah garis kemiskinan
6.
Ekonomi
PAD (Pendapatan Asli Daerah)
Laju Pertumbuhan Ekonomi
PDRB tanpa migas per kapita
Tabel 1. Indikator Kerentanan Sosial-Ekonomi
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian kerentanan Terhadap Krisis Ekonomi?
2.  Indikator apa saja yang mempengaruhi kerentanan terhadap krisis ekonomi?
1.3 Tujuan
Supaya mahasiswa lebih mengetahui penegertian dan faktor-faktor yang mempengaruhi kerentanan terhadap krisis ekonomi. Serta Kami juga bisa belajar lebih mendalam tentang kondisi perekonomian Dunia dan Indonesia dari tahun-ketahun.
                                      





BAB II
PEMBAHASAN

2.1       Faktor-Faktor Penyebab Kerentanan Ekonomi Indonesia
1.    paparan-wamen-ppn-bappenas-rbsummit-27-638.jpgAdanya Instabilitas politik  antara lain akibat adanya konflik antara lembaga eksekutif (Presiden) dengan lembaga legislatif (DPR-RI), yang  akhirnya  menimbulkan krisis konstitusi dan ketegangan politik di masyarakat luas.










          
           Gambar 1. Ketidak Satabilan Politik Indonesia (sumber : BAPENAS)
2.    Adanya Instabilitas keamanan  antara lain akibat adanya konflik bernuansa sara seperti terorisme serta meningkatnya perbuatan kriminalitas yang makin sadis. Hal ini sangat mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat.



asal-mula-pertempuran-gallipoli.jpg













            Gambar 2. Konflik Bernuansa Sara
3.    Korupsi, Kolusi dan Nepotisme adalah penyebab utama timbulnya krisis ekonomi yang berkepanjangan. Sampai sekarang aparat Kejaksaan Agung belum berhasil menuntaskan kasus korupsi penyalahgunaan dana BLBI. Hasil pemeriksaan BPK tahun Anggaran 2000 di Departemen-departemen dan lembaga-lembaga pemerintah termasuk di Bank Indonesia menunjukkan kecenderungan peningkatan penyalahgunaan penggunaan keuangan negara oleh oknum-oknum Pejabat/Aparatur Pemerintah.
2.2       Mengukur Tingkat Kerentanan Ekonomi
2.2.1    Definisi
Keruntanan bukan suatu konsep yang langsung berbeda dengan konsep kemiskinan. Hingga sekarang, belum ada konsensus mengenai arti yang tepat dari kerentanan. Tetepi secara umum, kerentanan merujuk kepada potensi kerugian atau kerusakan yang diakibatkan oleh goncangan eksogen. Di bidang ekonomi, kerentanan ekonomi merujuk pada risiko-risiko yang disebabkan oleh goncangan eksogan (bisa dari sumber-sumber internal maupun eksternal) terhadap tiga sistem kunci dari ekonomi, yaitu produksi, distribusi (dari output  dan input-input) dan konsumsi.
2.2.2    Indikator
Indikator-indikator kerentanan adalah metodologi paling umum yang digunakan dalam mengkaji tingkat kerentanan. Cara setandarnya dengan mengkompilasi suatu daftar dari indikator-indikator yang menggunakan sejumlah kriteria, seperti kontinuitas mengikuti suatu kerangka kerja konseptual definisi-definisi ketersediaan data dan sensitivitas terhadap goncangan-goncangan, briguglio, dkk (2008) mengatakan bahwa pemillihan indicator adalah sesuatu yang subjektif. Namun demikian, untuk meminimalisasi subjektivitas, mereka menekankan bahwa pemilihan harus berdasarkan kriteria yang benar dan terkait dengan cakupan yang tepat, simplisitas dan dengan mudah bisa melakukan perbandingan-perbandingan yang komprehensif dan berkelanjutan transparansi. Tujuan dari penelitian ini, seperti yang telah di singgung sebelumnya, yakni untuk menawarkan sejumlah indicator yang tepat untuk digunakan dalam mengukur tingkat kerentanan terhadap krisis-krisis ekonomi pada tingkat provinsi.
2.2.3    Analisis Empiris
Menurut tingkat agresi,kerentanan ekonomi dapat dikaji pada tingkat makro, yakni bisa sebuah Negara, sebuah wilayah, misalnya provinsi atau kabupaten, atau suatu kelompok masyarakat/komunitas, dan pada tingkat mikro yaitu pada tingkat individu (seseorang) atau tingkat RT, dua sub-bab beerikut mengusulkan sejumlah rasio atau variable yang dapat digunakan sebagai indikator-indikator dari kerentanan ekonomi pada tingkat, masing-masing makro dan mikro.
2.2.4    Indikator-Indikator Pada Tingkat Makro
1. Luas ekonomi/pasar
Suatu Negara atau wilayah kecil dalam arti jumlah populasinya sedikit membatasi kemampuannya untuk mendapatkan keuntungan dari sekala ekonomis dan menjadi penghambat bagi kemungkinan produksi. Oleh kerena itu, luas ekonomi atau pasar harus dianggap sebagai salah satu indikator ketahanan ekonomi terhadap goncangan-goncangan (Guillaumont 2007).
2. Kepadatan dan Struktur Penduduk
Seperti telah dibahas butir 1 bahwa, total populasi adalah positif bagi ekonomi perihal sekala ekonomis dan kemungkinan produksi. Semakin banyak jumlah produk, semakin besar luas pasar domestic atau local. Semakin banyak unit dari suatu jenis produk yang bisa dibuat, semakin penuh pemakaian kapasitas produksi yang terpasang dan semakin rendah biaya produksi per satu unit dari produk tersebut ( sekala ekonomis). Demikian juga, semakin besar populasi, dan semakin banyak angkatan kerja, atau semakin besar SDM yang tersedia, maka semakin banyak produksi yang bisa dilakukan. Namundemikian, ada suatu hambatan terhadap sisi positif dari populasi yang besar.
3. Lokasi Geografi
Lokasi yang terisolasi seperti pulau-pulau kecil di perbatasan (sering disebut sebagai pulau-pulau terluar) atau desa-desa diatas pegunungan di papua membuat biaya transfortasi menjadi sangat mahal dan marjinalisasi dalam semua aspek (ekonomi, sosisl dan politik) kehidupan dari masyarakatnya. Derajat keterbukaan ekonomi suatu wilayah juga sangat ditentukan, diantara factor-faktor lainnya oleh lokasi geografinya. menurut banyak penelitian, terpencil dari pusat pasar (untuk barang jadi/autfut maupun bahan baku/infut) merupakan suatu hendikap structural tidak saja Karen hal itu, merupakan juga salah satu factor kerentanan (bahkan sekalipun biaya transfortasi mengalami penurunan, misalnya sebagai suatu hasil dari perbaikan sistem dalam alat-alat transfortasi yang ada yang di dorong oleh kemajuan teknoligi), jarak tetap merupakan suatu hambatan bagi kegiatan-kegiatan perdagangan dan investasi.
3.   Setruktur Konsumsi Rumah Tangga
Indikator ini terutama relevan untuk krisis pangan di Indonesia, provinsi-provinsi atau kabupaten-kabupaten dengan rasio konsumsi beras terhadap konsumsi non beras yang lebih tinggi (dalam total rata-rata per RT atau per orang) atau yang memiliki presentase dari konsumsi beras didalam total pengeluaran (makanan dan non makanan) yang lebih besar pada prinsifnya lebih rentan terhadap krisis tipe ini dibandingkan provinsi-provinsi atau kabupaten-kabupaten dengan rasio yang lebih rendah. Krisis pangan terjadi di suatu wilayah ketika persediaan atau produksi makanan lebih rendah dari pada kebutuhsn atau konsumsi makanan di wilayah itu.


4.   Keterbukaan ekonomi
Suatu wilayah dengan derajat keterbukaan ekonomi yang tinggi menandakan wilayah tersebut melakukan ekpor dan inpor ( jika wilayah itu berada di suatu Negara,bisa berarti tidak hanya melakukan perdagangan dengan Negara-negara lain,tetapi juga dengan wilayah-wilayah lainnya di dalam negeri) secara intensif dan ini bisa di ukur dengan rasio perdagangan eksternal terhadap PDRB (atau PDB dalam kasus Negara) menurut Briguglio,DKK (2008), keterbukaan ekonomi hingga suatu besaran tertentu yang signivikan adalah suatu ciri yang tertanam di dalam ekonomi (bisa dalam arti suatu Negara atau wilwyah di dalam suatu Negara),yang terkondisikan ruang dan waktu oleh dua faktor. Luas  pasar domestic dari Negara bersangkutan yang mempengaruhirasio eksporterhadap PDB (atau PDRB dalam kasus prvinsi ) (yang artinya,pasar domestic/local yang laebih kecil,misalnya singapura, cenderung menambah ekspor.sebaliknya pasar domestik yang lebih besar,misalnya Indonesia, cenderung mengurangi/membatasi ekspor, ceteris paribus). Ketersediaan  sumber daya produksi dari Negara yang bersangkutan dan kemampuan Negara itu untuk memproduksi secara efisien sejumlah barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan permintaan pasar domestiknya. Hal ini akan mempengaruhi rasio inpor terhadap PDB/PDRB (artinya, lebih miskin dalam sumber daya produksi dan kurangnya kapasitas produksi atau kurangnya kemempuan produksi.


6.    Ketergantungan dan difersifikasi ekspor
Wilayah-wilayah dengan suatu ketergantungan ekspor yang sangat besar, diukur dengan rasio ekspor terhadap PDB (PDRB untuk kasus provinsi), mempunyai suatu keterbukaan yang lebih besar terhadap goncangan-goncangan eksogen dibandingkan wilayah-wilayah yang tidak terlalu tergantung kepada ekspor.
7.        Ketergantungan dan diversivikasi impor
Wilayah-wilayah dengan derajat ketergantungan impor yang tinggi, terutama impor-impor strategis seperti energi (misalnya minyak bumi atau gas), makanan, SDA krusial lainnya, dan bahan-bahan industri, diperburuk dengan kemungkinan substitusi impor yang terbatas sangat rentan terhadap ketidak stabilan suplai dunia (atau ketersediaan stok dunia), atau dalam harga dunia untuk impor-impor tersebut.
8.        Deversifikasi ekonomi
Semakin tinggi pangsa output (persentase) dari, industry manufaktur atau sector pertanian dalam pembentukan PDB (PDRB dalam kasus provinsi), semakin tinggi tingkat konsentrasi atau semakin rendah tingkat deversifikasi ekonomi, selanjutnya untuk setiaptingkat permintaan pasar domestic yang ada (ditentukan oleh besarnya populasi dan pendapatan rill per kapita)tingginya tingkat konsentrasi ekonomi juga berarti tingginya tingkat ketergantungan  impor untuk barang dan jasa lain yang tidak dibuat di dalam negri atau domestiknya sedikit (direfleksikan oleh kecilnya sumbangan PDB/PDRB dari industri atau sektor yang membuat barang dan jasa itu).
9.        Pendapatan rill per kapita
Pendapatan rill per kapita sering digunakan sebagai sebuah indicator kesejahteraan, yang menandakan daya beli dari sebuah ekonomi. Namun demikian, indicator ini tidak menunjukan total kesejahteraan  dari sebuah Negara atau wilayah sejak data nasional mengenai pendapatan hanya mencakup pendapatan-pendapatan actual yang diterima oleh pekerja-pekerja dan hasil dari mengkomersialisasikan asat-aset fisik (tidak termasuk SDM), misalnya, rumah sendiri yang tidak digunakan untuk disewakan.

10.    Rumah tangga menurut kelompok pendapatan
Sebelumnya telah dibahas pendapatan per kapita di suatu wilayah. Namun demikian, pendapatan atau kekayaan rill yang tinggi di suatu Negara/wilayah tidak akan berarti sama sekali jika pendapatan tersebut tidak terdistribusikan relatif merata ke seluruh penduduknya. Hal ini dapat dikatakan bahwa ketika pendapatan rill per kapita di suatu provinsi tinggi, maka tingkat kemiskinan di provinsi itu juga bisa tinggi karena kesenjangan pendapatan sangat besar.
11.    Kemiskinan
Tingkat kemiskinan di suatu wilayah umumnya diukur dengan proporsi dari jumlah penduduk di wilayah yang hidup dibawah garis kemiskinan yang berlaku. Tingkat kemiskinan adalah suatu indikasi untuk tingkat sensitivitas maupun tingkat ketahanan suatu wilayah terhadap goncangan. Dasar pemikirannya mengungkapkan bahwa hanya orang atau RT yang tidak miskin (yang memiliki uang cukup atau aset bernilai tinggi) yang lebih mampu menghadapi suaatu krisis ekonomi dibandingkan mereka yang miskin. Jadi suatu hipotesisnya wilayah miskin ( dimana sebagian besar penduduknya hidup dibawah garis kemiskinan yang berlaku) lebih rentan terhadap suatu krisis ekonomi, atau wilayah tersebut lebih banyak kesulitan dibandingkan wilayah kaya (dimana sebagian besar wilayah penduduknya hidup di atas garis kemiskinan yang berlaku) dalam menghadapi atau menanggulangi efek negative dari sebuah goncangan ekonomi (baik yang berasal dari sumber-sumber internal maupun internal), ceteris paribus.

12.    Kemajuan pendidikan
Kemajuan pendidikan biasanya diukur dengan dua indicator modal manusia, yakni jumlah anak-anak yang bisa membaca dan menulis dan rasio-rasio mengikuti pendidikan atau pendaftaran sekolah. Alternatifnya, juga di ukur dengan sebuah indeks yaitu indeks pengembangan manusia (Human Development Index HDI) dari United Nations Development Program (UNDP). Kemajuan pendidikan umumnya dianggap sebagai suatu determinan penting dari kemampuan suatu wilayah/komunitas dalam menghadapi dan menanggulangi suatu krisis atau bencana. Jadi, dengan asumsi orang berpendidikan biasanya lebih terbuka dan juga lebih tahan terhadap goncangan.
13.    Kondisi kesehatan
Kesehatan merupakan Suatu indikator modal manusia yang krusial, kemajuan dalam pendidikan atau keberhasilan mencapai pendidikan tinggi tidak akan pernah tercapai dalam suatu komunitas yang tidak sehat. Dengan kata lain pendidikan dan kesehatan punya peran yang sama mereka adalah dua faktor yang bersifat komplementer satu dengan yang lainnya.
14.    Kemampuan teknologi
Teknologi adalah determinan paling penting selain SDM bagi pembangunan dan kemajuan atau kesejahteraan ekonomi. Jadi wilayah dengan kemampuan teknologi tinggi memiliki ketahanan lebih besar terhadap goncangan dibandingkan wilayah dengan kapabilitas rendah dalam pengembangan atau penguasaan teknologi, ceteris paribus.
15.    Infrastruktur sosial-ekonomi
Hipotesis terkait tingkat kerentanan (ketahanan) ekonomi di wilayah yang infrastruktur social dan ekonominya maju lebih rendah/tinggi dibandingkan wilayah yang masih terbelakang atau wilayah pertama yang lebih mampu/cepat untuk pilih kembali dari suatu krisis ekonomi dengan kerugian lebih kecil dibandingkan dengan wilayah infrastruktur sosial-ekonominya buruk.


16.    Modal sosial
Pentingnya modal sosial diakui umum sebagai suatu faktor krusial dalam membangun dan memelihara kepercayaan yang harus ada untuk kepaduan dan kemajuan sosial. Di dalam bidang ekonomi, modal sosial penting sebagai suatu faktor penentu tingkat kelayakan dan produktivitas dari kegiatan-kegiatan ekonomi (Putman 1993).hal ini memberi kesan adanya suatu keterkaitan positif antara sifat alamiah dari proses pembangunan ekonomi dan modal sosial.
17.    Pertisipasi wanita dalam kesempatan kerja/kegiatan ekonomi
Tingkat partisipasi wanita sudah semakin tinggi dalam segala aspek kehidupan, baik ekonomi sosial maupun politik.karena banyak hambatan yang dihadapi oleh sebagian besar wanita di Indonesia seperti kultur, budaya, agama, norma, tradisi, dan praktek-praktek yang bisa dilakukan lelaki. Tingkat marjinalisasi wanita di Indonesia seperti diberbagai NB lainnya secara umum dipercaya masih lebih tinggi daripada di dunia maju.
18.    Stabilitas ekonomi makro
Mengikuti kinerja dari Briguglio dkk. (2008) dalam membuat suatu indeks ketahanan, stabilitas ekonomi makro di amggap sebagai suatu variable penting yang menangkap efek dari penyerapan goncangan atau kebijakan-kebijakan anti goncangan . stabilitas ekonomi makro berhubungn dengan suatu keseimbangan ekonomi internal (yakni permintaan agragat sama dengan penawaran agregat), yang dimanifestasikan dalam suatu fiscal atau posisi keuangan dan anggaran pemerintah (pengeluaran pemerintah relatif terhadap pendapatan pajak dan pendapatan pemerintah lainnya) yang berkelanjutan, laju pertumbuha PDB yang lebih tinggi, laju imflasi yang rendah, dan tingkat pengangguran /kesempatan kerja yang dekat dengan tingkat alaminya maupun dengan suatu keseimbangan eksternal.
19.    Efisiensi pasar ekonomi mikro
Efisiensi pasar ekonomi mikro juga dianggap sebagai suatu komponen penting dari indeks ketahanan yang ditawarkan oleh Biuguglio, dkk (2008). Pembenaran teoritisnya dari pemakaian komponen tersebut adalah sebuah ekonomi akan mendapatkan lebih banyak keuntungan dari semua sumber daya produktif yang ada dialokasikan melalui mekanisme harga yang tidak terdistoris. Pada saat suatu krisis ekonomi terjadi, semakin efisien sebuah ekonomi, semakin lebih cepat proses penyesuaian pasar untuk mencapai suatu keseimbangan yang baru, dan semakin sedikit biaya kerugian yang harus dibayar dalam peroses pemulihan.

2.3       Indikator-indikator pada tingkat mikro
Sebelumnya telah dibahas indikator-indikator kerentanan ekonomipada tingkat makro pengan fokus pada tingkat provinsi, tetapi tentu yang menjadi masalah adalah kerentanan individu atau RT, terutama dari kelompok miskin. Hal ini sangat jelas bahwa kerentanan ekonomi dari suatu Negara dari tingkat makro berasosiasi dengan kerentanan pada tingkat mikro, tergantung pada bagaimana suatu krisis mempengaruhi ekonomi tersebut dan kehidupan masyarakat secara individu maupun kelompok, misalnya RT. Kerentanan suatu RT mempunyai tiga komponen utama :
1.  Goncangan pada pendapatan/penghasilan RT tersebut, yang tergantung pada besarnya dan sifat dari goncangan itu sendiri, dari keterbukaan serta ketahanannya terhadap goncangan pada tingkat makro.
2. Kepekaan dari RT tersebut terhadap goncangan itu.
3. Kapasitas dari RT  tersebut untuk bereaksi, yaitu tingkat ketahanannya. Apabila di suatu daerah, semua RT ternyata rentan, maka itu akan terrefleksikan oleh ketahanan yang rendah dari daerah itu (pada tingkat makro). Dengan kata lain, ada suatu hubungan positif antara derajat ketahanan (tingkat kerentanan) pada tingkat makro dan pada tingkat mikro (Guillaumont,2001).













BAB III
PENUTUP

3.1       Kesimpulan
            Indonesia sangat rentan terhadap setiap tipe atu bentuk goncangan ekonomi, baik yang menurut sumbernya bersal dari dalam negeri atau dari sumber-sumber eksternal seperti krisis ekonomi global 2008-2009 yang bersal dari suatu krisis keuangan di AS.
            Ada sejumlah alasan kenapa perekonomian Indonesia sangat rentan terhadap hampir semua tipe krisis ekonomi seperti berikut ini :
1. Ekonomi Indonesia semakin terbuka dibandingkan, pada awal pemerintahan Orde baru (1966).
2. Walaupun dengan suatu jalur yang menurun, Indonesia masih tetap bergantung pada ekspor dari banyak komoditi primer, yaitu pertambangan dan pertanian.
3. Dalam dua dekade terakhir, indonesia semakin tergantung pada impor dari sejumlah produk makanan yang penting, termasuk beras, gandum, jagung, daging, sayur-sayuran, buah-buahan, dan minyak
4. Dalam 20 tahun belakangan ini semakin banyak tenaga kerja indonesia (TKI) termasuk wanita yang bekerja diluar negeri.
5. Dalam 20 tahun belakangan ini semakin banyak tenaga kerja indonesia (TKI) termasuk wanita yang bekerja diluar negeri.


Hubungan – hubungan antar indikator dibagi menjadi 19 yaitu :
1.    Luas ekonomi/ Pasar
2.    kepadatan dan struktur penduduk
3.    Lokasi Geografi
4.    Struktur konsumsi rumah tangga
5.    keterbukaan ekonomi
6.    ketergantungan dan diversifikasi ekspor
7.    ketergantungan dan diiversifikasi impor
8.    Diversifikasi ekonomi
9.    Pendapatan riil perkapita
10.  Rumah tangga menurut kelompok pendapatan
11.       Kemiskinan
12.       Kemajuan pendidikan
13.  Kondisi kesehatan
14.       Kemampuan teknologi
15.       Infrastruktur sosial- ekonomi
16.       Modal sosial
17.       Partisipasi winita dalam kesempatan kerja/kegiatan ekonomi
18.       Stabilitas ekonomi makro
19.       Efisiensi pasar ekonomi mikro




DAFTAR PUSTAKA
J. Sudarsono. 1992. Pengantar Ekonomi Perusahaan : Buku Panduan Mahasiswa. Jakarta : Gramedia Pusaka Utama.
T.H Tambunan, Tulus. 2011. Perekonomian Indonesia: Pertumbuhan Ekonomi dan Perubahan Struktur Ekonomi. Bogor: Ghalia Indonesia.
Sardono Sukirno dan Kawan-kawan. 2004. Pengantar Bisnis : Edisi Pertama. Jakarta : Pradana Media.
T.H Tambunan, Tulus. 2010. Perekonomian Indonesia. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Bustanul Arifin. 2001. Ekonomi dan Bisnis Indonesia. Jakarta : INDEF.
 T.H Tambunan, Tulus. 2008. Pembangunan Ekonomi dan Utang Luar Negeri. Jakarta : Rajawali Press.
Tulus Tambunan. 1998. Krisis Ekonomi dan Masa Depan Reformasi. Jakarta : Lembaga Penerbit, Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia.
Faisal Basri dan Harris Munandar. 2009. Lanskap Ekonomi Indonesia : Kajian dan Renungan terhadap Masalah Struktural, Transportasi baru dan Prospek Perekonomian Indonesia. Jakarta : Prenada Media.
Soeharsono Sagir. 2009. Kapita Selekta Indonesia. Jakarta : Prenada Media.
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM). 2010. Indonesia Macroekonomic Outlook. Jakarta : Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia.
Basri, Faisal. 1995. Perekonomian Indonesia Menjelang Abad  XXI. Jakarta : Pradana Media.


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REMAZ / Remaja Pengajian Masjid Azzulfa (REMAZ), Dabo Singkep

Remaja Pengajian Masjid Azzulfa (REMAZ) Di artikel kali ini, saya ingin memaparkan beberapa hal yang berkenaan dengan Remaja Pengajian Masjid Azzulfa atau disingkat dengan REMAS dan Juga di Kenal dengan Sebutan Organisasi REMAZ (OR). Remaja Masjid Azzulfa (REMAZ), Diresmikan Oleh Ketua Masjid Besar Azzulfa yaitu Bapak H. Zamroni, S.Ag, Tepatnya pada Tanggal 06 Juni 2013, dengan Pembinanya adalah Agustiar, S.Pd, dan Ketua Pertamanya pada waktu itu adalah Dino,,. REMAZ Merupakan Organisasi yg menaungi para pelajar-pelajar khususnya yg beragama Islam agar bisa belajar Islam, Organisasi ini juga merupakan organisasi yg dibentuk untuk membina para Remaja Muslim agar tidak Terjerumus kedalam hal Negatif, Remaja Masjid Azzulfa juga sangat terbuka untuk para pemuda khususnya Para Remaja SMP dan SMA jika ingin bergabung dan belajar tentang keislaman. Saat ini Penulis yang Merupakan Mantan Ketua REMAZ Yg kedua yg diangkat Pada tgl 09 September 2013, sangat mengharapkan agar para Remaja d...

firmansyah